Koreksi Pernyataan Akademisi, Pecinta Sejarah Lasem Gelar Aksi Orasi di Alun-Alun

LASEM – Ratusan elemen masyarakat yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Pecinta Sejarah Lasem memadati Alun-Alun Lasem usai ibadah salat Jumat (7/8/2026).

Kehadiran mereka bukan sekadar mengenang ikrar Perang Puputan Lasem 1750, melainkan juga meluruskan pernyataan Dr. Ubaidillah Tamam Munji yang menyebut Alun-Alun Lasem sebagai ruang publik baru. Pernyataan tersebut dinilai berpotensi mencederai jejak sejarah perjuangan dan toleransi warga Lasem, walau di saat bersamaan massa juga menyampaikan keterbukaan untuk memaafkan usai adanya klarifikasi dari pihak terkait.

Dalam aksi rekonstruksi dan orasi budaya tersebut, orator Galih Pandu Adi mengingatkan kembali memori kolektif peristiwa yang terjadi hampir tiga abad lalu di lokasi yang sama. Kala itu, pada Jumat bulan Agustus 1750, selepas Salat Jumat dan seruan Perang Sabil oleh Kyai Ali Badawi (Simbah Kyai Joyo Tirto), seluruh elemen masyarakat beserta para tokoh mengangkat sumpah prasetya di hadapan R.P. Margana.

Tokoh-tokoh seperti Tumenggung Widyaningrat (Oe Ing Kyat), Raden Mlayakusuma, Naya Gimbal, dan Kyai Ali Badawi mengikrarkan sumpah: “Lega lila sabaya pati sukung raga lan nyawa ngrabasa nyirnakake Kumpeni Belanda ing Bumi Jawa” (Ikhlas dengan lega dan rela bertempur sampai mati, mempertaruhkan tubuh dan nyawa demi menumpas hilangkan Kumpeni Belanda di Bumi Jawa).

Sumpah prasetya singkat tersebut dibayar mahal dengan ribuan nyawa demi mempertahankankan marwah, kehormatan, serta harkat dan martabat kemanusiaan yang terinjak-injak akibat penjajahan.

Atas dasar nilai sejarah itulah, massa berkumpul untuk menolak tegas narasi yang disampaikan Dr. Ubaidillah Tamam Munji dalam ceramahnya di acara Haul Pangeran Sedo Laut pada 31 Juli 2026. Pernyataan yang seolah menyebut Alun-Alun Lasem sebagai alun-alun baru dikhawatirkan dapat mengaburkan, bahkan menghapus nilai historis dari peristiwa Perang Puputan Lasem atau Perang Godo Walik (Agustus–Oktober 1750).

Trending :   Hendak Dijemput Rekan Kerja, Pria di Pati Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Kos

Padahal, Alun-Alun Lasem merupakan simpul penting tempat tercetusnya ikrar perjuangan sekaligus simbol kebersamaan, toleransi, dan persatuan seluruh elemen masyarakat Lasem. Narasi tanpa sumber yang menyebut lokasi tersebut sebagai ruang publik baru dinilai tidak hanya melukai hati masyarakat, tetapi juga berpotensi mengaburkan jejak toleransi dan persatuan yang terwakili dari sejarah Perang Lasem.

Selain itu, massa juga menyanggah narasi yang mempertentangkan antara Rembang dan Lasem dengan sebutan “Rembang nderek kerajaan Demak, Lasem nderek Kerajaan Majapahit”. Narasi tersebut dinilai kurang tepat dan berpotensi memicu polemik di tengah masyarakat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa Rembang dan Lasem saling berkelindan seperti tangan dan kaki, wajah dan kemolekannya, serta cahaya dan baranya sehingga tidak bisa dipisahkan maupun dibandingkan secara sepihak.

Lasem sendiri memiliki bukti-bukti arkeologis yang kaya dari berbagai zaman, membuktikan bahwa sejarahnya begitu berwarna dan harmonis.

Meski menyampaikan sanggahan keras, Jaringan Masyarakat Pecinta Sejarah Lasem tetap mengapresiasi iktikad baik Dr. Ubaidillah Tamam yang telah menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf terbuka melalui kanal YouTube pribadinya pada 5 Agustus 2026. Massa secara resmi menyatakan menerima permohonan maaf tersebut.

Melalui aksi ini, masyarakat berharap ke depannya tidak ada lagi tokoh atau pengisi acara yang menyampaikan narasi sejarah tanpa dasar sumber dan referensi yang valid, sehingga kondusivitas dan kerukunan di tengah masyarakat tetap terjaga.

Related Articles

TRENDING