
Sumber mata air merupakan komponen vital dalam keberlanjutan kehidupan manusia dan ekosistem. Namun demikian, berbagai tekanan lingkungan seperti alih fungsi lahan, berkurangnya tutupan vegetasi, serta kurangnya kesadaran masyarakat telah menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas sumber air di berbagai wilayah.
Menyadari pentingnya pelestarian sumber daya air, Karang Taruna Hamong Praja dan PAN (Pecinta Alam Ngulahan) kemudian menginisiasi sebuah gerakan bernama Memetri Basundari.
Kegiatan ini telah memasuki tahun ke 7 (tujuh), dan berfokus pada upaya konservasi sumber mata air melalui pendekatan ekologis dan budaya.
Dengan mengusung jargon “Konservasi Dadi Tradisi”, gerakan ini menegaskan bahwa tindakan konservasi harus menjadi bagian dari identitas dan kebiasaan masyarakat, bukan hanya program sesaat.
Memetri Basundari merupakan gerakan berbasis Swadaya masyarakat yang menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah dalam pelestarian lingkungan. Istilah memetri memiliki makna merawat atau menjaga dengan penuh kesungguhan, sedangkan basundari merujuk pada bumi beserta seluruh unsur kehidupan di dalamnya.
Dengan demikian, Memetri Basundari dapat dipahami sebagai praktik kolektif dalam menjaga keberlangsungan alam secara holistik.
Kondisi berkurangnya vegetasi setiap tahun di sekitar sumber mata air telah berdampak pada menurunnya kapasitas resapan tanah dan berkurangnya debit air pada musim kemarau. Hal inilah yang menjadi dorongan untuk melakukan tindakan nyata melalui penanaman pohon dan pemulihan vegetasi sebagai bentuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Kali ini acara diselenggarakan dengan format kelompok terbatas hanya dihadiri oleh Ketua Karang Taruna Kab. Rembang, Karang Taruna desa Ngulahan, PAN (Pecinta Alam Ngulahan) Perwakilan CDK I dan Perwakilan dari PKSM Rembang. Salam Konservasi !!
Oleh: En Arthur


