Sambatan Hidupkan Semangat Gotong Royong di Desa Tanjung, Warga Bahu Membahu Perbaiki Rumah

REMBANG — Puluhan warga tampak bergotong royong mengangkat rangka atap rumah secara bersama-sama di RT 02 RW 01 Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Minggu (12/4/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi sambatan, kearifan lokal masyarakat Jawa yang masih lestari hingga kini.

Dalam suasana penuh kebersamaan, warga dari berbagai usia terlibat aktif membantu proses perbaikan rumah milik Sukur. Tanpa pembagian tugas formal, mereka bekerja secara spontan—mulai dari membongkar material lama, menyiapkan genteng, hingga mengangkat rangka kayu menggunakan batang bambu sebagai penyangga.

“Ini sudah menjadi kebiasaan di sini. Kalau ada warga yang membangun atau memperbaiki rumah, yang lain pasti datang membantu,” ujar salah satu warga yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Tradisi sambatan tidak hanya sekadar kerja bakti, tetapi mencerminkan nilai solidaritas sosial yang kuat. Warga yang membantu tidak mengharapkan imbalan, melainkan mengedepankan prinsip kebersamaan dan saling tolong-menolong.

Sukur, pemilik rumah, mengaku sangat terbantu dengan adanya sambatan. Menurut dia, tanpa bantuan warga, proses pembangunan rumah akan membutuhkan biaya yang jauh lebih besar.

“Saya sangat bersyukur. Dengan adanya sambatan, pekerjaan jadi lebih cepat selesai dan biaya bisa ditekan. Ini benar-benar meringankan,” kata Sukur.

Kegiatan tersebut juga menunjukkan bagaimana masyarakat masih mempertahankan nilai gotong royong di tengah perkembangan zaman. Di saat sistem kerja modern semakin mengandalkan tenaga profesional berbayar, warga Desa Tanjung tetap menjunjung tinggi tradisi kebersamaan.

Secara visual di lapangan, terlihat belasan warga bekerja serempak mengangkat struktur atap kayu yang cukup besar. Koordinasi dilakukan secara sederhana, namun efektif, mencerminkan pengalaman kolektif yang telah terbangun dari generasi ke generasi.

Tokoh masyarakat setempat menilai, sambatan memiliki peran penting dalam menjaga hubungan sosial antarwarga.

Trending :   LDNU Gianyar Gelar Silaturahmi Ramadhan di Majelis Ta’lim Al-Islah, Serahkan Bingkisan 'Sembako Barokah'

“Sambatan ini bukan hanya soal membantu pekerjaan, tapi juga mempererat silaturahmi. Dari sini kita bisa saling mengenal, saling peduli,” ujarnya.

Dalam kajian budaya, sambatan dikenal sebagai tradisi gotong royong yang berlandaskan prinsip timbal balik atau reciprocity, di mana setiap bantuan yang diberikan akan kembali ketika seseorang membutuhkan. Tradisi ini juga menjadi sarana pembentukan karakter, terutama dalam menanamkan nilai kepedulian dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Di Desa Tanjung, tradisi sambatan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial warga. Tidak hanya dalam pembangunan rumah, tetapi juga dalam berbagai kegiatan lain seperti hajatan, perbaikan fasilitas umum, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

Di tengah arus modernisasi, keberlangsungan sambatan menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

Related Articles

TRENDING