Jangan Jumawa, Do’a Rakyat Terzalimi Lebih Kuat Dari Benteng Istana!

Tak Sadarkah Kamu? Rakyat itu seperti tanah. Tenang, diam, tapi menyimpan kekuatan besar. Tanah bisa menumbuhkan padi yang mengenyangkan, tapi tanah juga bisa menelan siapa saja yang sombong di atasnya.

Kalian para Pejabat kadang lupa. Lupa bahwa kursi yang kamu duduki hanyalah titipan. Lupa bahwa tangan yang kamu gunakan menandatangani kebijakan bisa jadi tangan yang membuat orang kehilangan rezeki. Lupa bahwa satu kalimat yang kamu ucapkan bisa melukai hati jutaan pendengar.

Rakyat bukan sekadar angka di laporan statistik. Mereka punya perasaan, keluarga, dan harga diri. Ketika hati rakyat terluka, mereka mungkin tak langsung marah, tapi mereka ingat.

Mereka ingat saat janji tak ditepati. Mereka ingat saat suara mereka diabaikan. Mereka ingat saat pajak yang mereka bayar tidak kembali dalam bentuk kesejahteraan, tapi dalam bentuk kendaraan mewah, atau bahkan gedung megah yang mungkin seumur hidupnya tidak mereka masuki.

Kau pikir rakyat itu lemah? Tidak. Mereka hanya diam, menunggu waktu. Dan waktu itu pasti datang. Karena sejarah mengajarkan, Tidak ada kekuasaan yang kekal jika ia berdiri di atas hati yang tersakiti.

Umar bin Khattab pernah berkata, “Bila ada rakyatku kelaparan sementara aku kenyang, maka aku adalah pengkhianat”. Pesan yang sederhana, tapi menusuk. Karena Pemimpin yang membiarkan rakyat menderita, adalah pengkhianat amanah.

Ingatlah, monyet jatuh bukan karna angin kencang. Justru mereka jatuh, karna terlalu lengah menikmati hembusan angin.

Ingat, Rakyat yang sabar bisa mengguncang istana. Dan doa orang yang terzalimi menembus langit tanpa penghalang.

Sebagaimana yang disampaikan manusia paling mulia, Muhammad ï·º,

“Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.” 

Jika pejabat terus mempermainkan hati rakyat, cepat atau lambat apa yang dibanggakan pasti akan runtuh.

Trending :   Satrio Piningit dan Ratu Adil: Harapan Akan Pemimpin yang Membawa Keadilan

Bagi mereka mungkin rakyat bukan lawan yang sepadan. Tapi mereka lupa, Tuhan mendengar setiap keluhan, meski hanya diucapkan lirih di tengah malam.

Panglima Garuda,
Lasem

Related Articles

spot_img

TRENDING