
PATI – Siapa sangka, di balik ketenangan Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Pati, tersimpan harta karun intelektual yang luar biasa. Bukan emas atau permata, melainkan tumpukan manuskrip kuno yang membuktikan bahwa desa ini adalah “episentrum” literasi ratusan tahun silam. Kini, lewat kolaborasi apik antara Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Pati dan warga setempat, gerakan masyarakat literasi kembali berkobar melalui program alih media digital.
Selasa (23/6) lalu, suasana Kencana Resto Desa Pekalongan tampak berbeda. Tim Digitalisasi Dinas Arpus Pati sibuk bergelut dengan alat pemindai dan cairan pembersih khusus. Di hadapan mereka, tersaji naskah-naskah kuno berusia lebih dari dua abad. Mulai dari mushaf Al-Quran bertulis tangan hingga kitab-kitab kuning yang kertasnya mulai rapuh dimakan zaman.
“Ini bukan sekadar mendigitalisasi buku lama. Ini adalah gerakan untuk menghidupkan kembali DNA literasi masyarakat Pekalongan yang sudah ada sejak 200 tahun lalu,” ujar Sugiri, S.I.Pus., Ketua Tim Digitalisasi Dinas Arpus Pati dengan nada antusias.
Dari Lemari Tua ke Layar Digital
Gerakan ini bermula dari kesadaran kolektif. Ketua Tim Pengumpulan Naskah, Jauhar Hilal, bergerak cepat mengidentifikasi warga yang masih menyimpan “warisan langit” tersebut. Hasilnya, lima keluarga secara sukarela menyerahkan naskah mereka untuk didigitalisasi. Langkah ini menjadi bukti bahwa semangat literasi di tingkat akar rumput masih sangat kuat.
Menurut Sugiri, naskah-naskah ini adalah bukti otentik bahwa nenek moyang warga Pekalongan bukan hanya pembaca yang tekun, tapi juga penulis yang hebat. “Bayangkan, 200 tahun lalu mereka sudah menulis naskah dengan tinta yang tidak luntur hingga sekarang. Ini adalah level literasi yang sangat tinggi di masanya,” paparnya.
Edukasi: Literasi Bukan Sekadar Membaca
Gerakan masyarakat literasi di Pekalongan tidak berhenti pada proses scanning. Warga juga dibekali ilmu filologi dasar dan teknik konservasi naskah. Mereka diajarkan mengenali watermark pada kertas Eropa abad ke-18 hingga cara menangani naskah agar tidak rusak akibat kelembapan atau bakteri dari tangan.
“Literasi itu luas. Merawat naskah juga bagian dari literasi fisik. Kami ingin warga bangga memiliki warisan ini dan mampu menjaganya dengan cara yang benar,” tambah Sugiri.
Kepala Desa Pekalongan, Ukhwaturroi, menyambut hangat gerakan ini. Baginya, digitalisasi adalah solusi cerdas untuk menjembatani sejarah dengan masa depan. Dengan adanya versi digital, naskah-naskah berharga tersebut kini bisa dipelajari oleh generasi muda melalui layar gawai atau proyektor tanpa risiko merusak naskah aslinya.
Menuju Desa Wisata Literasi
Langkah berani Desa Pekalongan ini diharapkan menjadi pemantik bagi desa-desa lain di Pati untuk menelusuri jejak sejarah mereka. Dinas Arpus Pati pun berkomitmen membawa gerakan ini ke level nasional dengan mendaftarkan naskah-naskah tersebut ke Perpustakaan Nasional.
“Desa Pekalongan punya modal besar untuk menjadi pusat studi literasi kuno. Jika gerakan ini terus konsisten, bukan tidak mungkin desa ini akan dikenal sebagai destinasi wisata literasi sejarah di Jawa Tengah,” pungkas Sugiri optimistis. Kini, naskah-naskah yang dulunya tersembunyi di lemari tua, siap menjadi jendela ilmu bagi dunia. (mah)


