
Rembang, Siapa sangka, di balik kesederhanaan dan kesibukan menjaga Portal tambang, tersimpan semangat luar biasa seorang pegawai yang pantang menyerah dalam menuntut ilmu.
Sutarmaji, S.E., atau yang akrab disapa Ajik, pria kelahiran Rembang yang baru saja menorehkan prestasi membanggakan sebagai salah satu lulusan terbaik Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI) Al-Muhsin Yogyakarta tahun 2025.
Bekerja sebagai penjaga portal tambang bukanlah profesi yang ringan. Pekerjaan yang menuntut disiplin tinggi dan waktu kerja yang padat tak membuat Ajik menyerah untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Ditengah kesibukan dan tanggung jawabnya, ia tetap konsisten menuntut ilmu hingga berhasil menyelesaikan studi dengan hasil gemilang.
“Bagi saya, belajar itu tidak mengenal usia maupun profesi. Selama masih diberi kesempatan dan kesehatan, saya ingin terus berkembang,” ujar Ajik dengan senyum penuh syukur saat ditemui usai wisuda.
Perjalanan Ajik menuju toga sarjana bukan tanpa rintangan. Ia harus pandai membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan keluarga. Tak jarang, malam-malamnya dihabiskan untuk menyelesaikan tugas kuliah setelah seharian penuh bekerja di lapangan.
Berkat dukungan penuh dari sang istri, anak-anak, serta teman-teman seperjuangan, semua tantangan itu berubah menjadi energi untuk terus melangkah.
“Istri saya selalu menjadi penyemangat utama. Saat saya mulai lelah, dia selalu mengingatkan, Bapak harus semangat, anak-anak pasti bangga punya orang tua yang pantang menyerah, Kalimat sederhana itu yang membuat saya kuat,” kenang Ajik dengan mata berbinar.
Rekan-rekan kuliahnya di STEBI Al-Muhsin juga menjadi saksi ketekunan Ajik. Meski usianya tak lagi muda dibanding mahasiswa lainnya, semangat belajarnya justru menular. Ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati, rajin berdiskusi, dan tak segan membantu teman-temannya memahami materi kuliah.
Pihak kampus pun turut bangga atas capaian luar biasa Ajik.
“Pak Sutarmaji adalah contoh nyata bahwa semangat belajar tak mengenal batas. Beliau tidak hanya berprestasi secara akademik, tapi juga memberi inspirasi bagi Mahasiswa lainnya untuk tidak mudah menyerah.” Ungkap Zuhrianto, M.E
Kini, gelar Sarjana Ekonomi yang ia raih bukan sekadar simbol pencapaian Akademik, tetapi bukti nyata bahwa kerja keras, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat mengubah keterbatasan menjadi keberhasilan.
Ajik berharap kisahnya dapat memotivasi para pekerja lain agar tidak takut bermimpi dan terus belajar.
“Selama kita punya niat baik dan tekad kuat, tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu. Semua bisa asal mau berjuang,” tuturnya menutup wawancara dengan penuh haru.
Dari penjaga portal tambang hingga podium wisuda, langkah Sutarmaji menjadi bukti bahwa pendidikan bukan milik mereka yang muda dan berkelebihan, tetapi milik siapa saja yang berani berjuang.


