Rembang – Polemik antara Pabrik Semen di Desa Tegaldowo dan Pemerintah Desa kembali memanas. Kali ini, giliran Dewan Pengurus Pusat (DPP) BRANDAL ALIF yang angkat suara. Melalui Ketua Umum-nya, Arif Yulianto, organisasi ini menyebut penghentian sementara operasional pabrik hanyalah strategi pencitraan yang dinilai menyesatkan opini publik.
“Langkah ini lebih terlihat sebagai gimmick publik. Kesan yang dibangun seolah-olah masyarakat akan langsung menderita karena operasional pabrik dihentikan sementara. Pertanyaannya: selama pabrik beroperasi, apakah masyarakat sudah benar-benar sejahtera? Apakah angka pengangguran di sekitar pabrik sudah nol?” ujar Arif dalam pernyataannya via sambungan telepon kepada media, Kamis (12/06/2025).
Menurutnya, narasi dramatis yang dimainkan oleh pihak pabrik tidak relevan dengan kondisi sosial di lapangan. Ia menilai perlu adanya penyelesaian konflik yang lebih bijak tanpa menarik emosi publik.
“Selesaikan dengan kepala dingin. Jangan merasa paling berjasa dan terzolimi lalu menarik simpati publik untuk menekan pihak lain,” lanjutnya.
Tak hanya menyoroti langkah pabrik, BRANDAL ALIF juga mengkritik aparat penegak hukum yang dianggap lamban dalam menindaklanjuti laporan hukum dari salah satu Lembaga Bantuan Hukum (LBH) ke Polres Rembang.
“Kami mengikuti perkembangan kasus ini. Laporan LBH ke Polres Rembang seolah mandek, tanpa kejelasan. Ini menimbulkan kekecewaan masyarakat,” tegas Arif.
Lebih jauh, DPP BRANDAL ALIF menuntut agar Bupati Rembang segera turun tangan dan tidak bersikap pasif atas konflik yang kian memanas di wilayahnya.
“Seharusnya Bupati cepat tanggap. Jangan hanya diam. Sebagai pemimpin daerah, beliau adalah bapaknya wong Rembang. Jadilah pengayom yang bisa diandalkan. Masa urusan seperti ini saja tidak bisa dituntaskan?” ucap Arif dengan nada kritis.
Sebagai penutup, Arif menyerukan agar semua pihak bisa menurunkan ego masing-masing dan duduk bersama mencari solusi yang adil dan berkelanjutan.
“Jangan lagi masyarakat dijadikan alat pencitraan atau korban dari tarik-menarik kepentingan. Saatnya kita dewasa dalam menyikapi konflik,” tutupnya.


