
Petani di Greenhouse Kencana, Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, kini siap panen 544 buah melon usia 62 hari setelah tanam. Hasil ini lahir dari kerjasama Kelompok Tani Wangan Bolek dengan tim riset siswa SMA Negeri 1 Jakenan.
Tim siswa terdiri dari Shiren, Rizka, Warsito, dan Raihan. Shiren serta Warsito mengolah limbah cocopit jadi media tanam kaya nutrisi untuk melon. Sementara Rizka dan Raihan menciptakan pupuk cair hayati agar nutrisi tanaman seimbang dan tumbuh optimal.
Ketua Kelompok Tani Wangan Bolek, Agus Salim, bangga dengan inovasi ini. “Limbah cocopit yang dulu kurang berguna sekarang jadi media tanam super produktif. Ditambah pupuk dari siswa, tanaman melon tumbuh lebih sehat dan stabil,” katanya.
Kepala Desa Pekalongan, Fatkhurro’i, menyebut kerjasama ini langkah cerdas untuk ekonomi desa. “Kami salut sama siswa yang riset ini. Cara tanam pakai cocopit dan pupuk hayati bisa jadi contoh pertanian hijau di desa kami,” ujarnya.
Kepala SMA Negeri 1 Jakenan, Rumaji, M.Si., bilang riset ini bagian pembelajaran proyek nyata. “Shiren-Warsito tingkatkan kualitas media tanam dari limbah, Rizka-Raihan bikin pupuk hayati untuk nutrisi melon. Siswa kami ingin beri solusi langsung buat masyarakat,” tegasnya.
Panen diperkirakan capai 700 kilogram di usia 75 hari setelah tanam. Kolaborasi ini jadi teladan pertanian berkelanjutan sekaligus dorong ekonomi lokal di Pati. (red.mah)


