oleh: Mahmudi Sulang
Dalam pusaran waktu dan jejak-jejak sejarah nusantara, terselip sebuah kisah yang tak lekang oleh zaman: tentang Satrio Piningit —sang ksatria tersembunyi. Namanya terpatri dalam serat-serat kitab karya Raden Ngabei Ronggowarsito, seorang pujangga Jawa agung yang menyulam kata menjadi makna kehidupan. Satrio Piningit bukan sekadar cerita, melainkan lambang harapan yang diam dalam keheningan.
Bayangkan seorang ksatria yang berdiri dalam kegelapan, terselubung dan tak banyak dikenal, namun memiliki kekuatan luar biasa untuk mengurai simpul-simpul keruwetan—ketimangan yang menggerogoti hati masyarakat, menembus yang merobek wangsa, dan keadilan yang sering terungkap. Ia datang bukan sebagai sosok yang riuh atau tuntutan panggung, namun sebagai pembawa cahaya dalam kelamnya yang didampingi.
Jika menengok ke ajaran eskatologi Islam, terutama dalam tradisi Syiah, hadir pula gambaran seorang Ratu Adil —Imam Mahdi, yang turun dari langit penghujung zaman membawa panji kebenaran dan kebenaran. Layaknya matahari yang menyingkapkan kabut pagi, ia akan menuntun manusia pada keseimbangan yang telah lama dirindukan.
Kisah-kisah ini, apakah hanya dongeng ataukah sebuah cermin jiwa manusia? Sejak dulu, kita merindu kehidupan yang adil, makmur, dan penuh kedamaian. Sosok Satrio Piningit dan Ratu Adil bukanlah sosok luar biasa yang jauh di angkasa sana, melainkan gambaran harapan kita, cermin dari jiwa yang terus berjuang menghadapi gelombang kehidupan.
Jadi, siapakah Satrio Piningit itu sebenarnya? Bukankah dia adalah kita? Kita yang dalam setiap langkah dan tetes keringat berusaha keras membangun kehidupan—menganyam impian, membangun tekad, mengumpulkan keberuntungan yang sejati. Setiap dari kita memiliki potensi menjadi ksatria yang tak terlihat, yang membawa perubahan demi masa depan yang lebih cerah.
Jadi, mari pandanglah diri dengan penuh semangat. Karena sejatinya, Satrio Piningit bukanlah legenda yang hilang, melainkan jiwa yang hidup dalam diri setiap insan yang berani bermimpi dan bertindak.
Salam hangat untuk kita semua, para ksatria kehidupan.


