Hidupkan Warisan Ulama, Siswa MA Tarbiyatul Banin Angkat Manuskrip Kalongan Lewat Film Dokumenter

Hidupkan Warisan Ulama, Siswa MA Tarbiyatul Banin Angkat Manuskrip Kalongan Lewat Film Dokumenter

PATI – Manuskrip kuno berusia ratusan tahun di Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, kini kembali hidup lewat tangan generasi muda. Salsabila Azzahra dan teman-temannya dari MA Tarbiyatul Banin membuat film dokumenter yang mengangkat Manuskrip Kalongan, naskah fiqih dan sufistik yang selama ini hanya tersimpan rapat di lemari keluarga pewaris.

Karya ini jadi bukti nyata bahwa pelestarian warisan budaya bisa dilakukan dengan cara kreatif dan kekinian. Manuskrip yang berisi ajaran syariat, thariqah, dan ma’rifah itu kini tidak sekadar ‘naskah tua’ yang rapuh, tapi tampil dalam bentuk digital yang mudah diakses siapa saja.

“Ilmu dari manuskrip itu bukan hanya sekadar pengetahuan, tapi juga pembentuk akhlak dan kepribadian,” kata KH Ubaidillah Achmad Taman Munji, dosen UIN Semarang dan peneliti manuskrip pesantren, saat ditemui via telepon.

Manuskrip Kalongan adalah salah satu dari tiga naskah penting di Pekalongan selain manuskrip Syathoriyah dan Al-Qur’an tulisan tangan ulama alumnus Baghdad. Meski fisiknya sudah lusuh, isinya tetap terjaga berkat perhatian keluarga pewaris.

Sejarah manuskrip ini berkaitan erat dengan perjalanan pendidikan Islam di Pekalongan. Pada 1930, KH Anwar dan rombongan mendirikan madrasah Far’iyah Matholiul Falah setelah berdiskusi dengan KH Ismail Zainal Abidin. Meski madrasah itu sempat ditutup pemerintah Hindia Belanda karena dianggap anti-kolonial, pada masa pendudukan Jepang madrasah kembali dibuka dengan nama Tarbiyatul Banin yang masih eksis sampai sekarang.

Film dokumenter buatan siswa MA Tarbiyatul Banin ini menampilkan wawancara tokoh masyarakat, akademisi, dan pewaris manuskrip, sekaligus memaparkan nilai-nilai sufistik yang tetap relevan di era digital. “Fiqh itu fleksibel dan bisa mengikuti perkembangan zaman. Lewat dokumenter ini, proses belajar kitab kuning bisa disambungkan dengan metode digital yang lebih kekinian,” ujar Roiyan Roiyyanallillah, guru PAI di madrasah tersebut.

Trending :   Rembang Borong Penghargaan Adiwiyata Nasional 2025 Tujuh Sekolah Terima Penghargaan Bergengsi di TMII Jakarta

Dhofir Maqosith, Ketua MWC NU Kecamatan Winong, menambahkan, “Tradisi ulama Pekalongan masih hidup dan terjaga kuat. Siswa-siswi madrasah berhasil membawa warisan para ulama ke ranah modern dengan cara yang menarik dan mudah dinikmati.”

Inisiatif ini tidak hanya melestarikan warisan budaya, tapi juga memperkuat identitas lokal sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk terus mengembangkan ilmu agama dalam bentuk yang lebih segar dan digital.

Related Articles

spot_img

TRENDING